Gerakan perubahan yang positif harus diwujudkan bersama-sama. Dengan kondisi Indonesia saat ini perlu kerja kolaboratif dalam mewujudkannya. Perubahan harus dilakukan karena berbagai hal yang kita temui di lapangan. Gelombang informasi yang tanpa batas mengakibatkan berbagai dampak ke generasi saat ini. Unggah-ungguh yang mulai berkurang, kurangnya sharing dulu sebelum share mengakibatkan banyak masalah. Maka literasi sebagai salah satu ikhtiar sebagai gerakan perubahan demi mewujudkan generasi yang bermartabat.
Orang dikatakan literat apabila memiliki
kemampuan dan kemauan untuk melakukan
sesuatu perubahan. Seperti hal yang disampaikan Ki Hajar Dewantara, proses belajar
melewati tigal hal yaitu ngerti,
ngrasa dan nglakoni. Proses
literasi diawali dari ngerti yang
berarti segala ajaran dan yang dicita-citakan diperlukan pengertian, kesadaran
dan kesungguhan dalam melaksankan. Yang kedua ngrasa yaitu merasakan dan
menyadari sebuah proses untuk diperjuangkan. Dan yang terakhir nglakoni yang
berati sebuah proses itu harus
dilaksanakan dengan sepenuh hati agar membawa hasil yang maximal.
Literasi sebagai garda
terdepan juga memerlukan wadah untuk melakukan kegiatan. Wadah kegiatan
tersebut adalah perpustakaan. Perpustakaan sebagai agen perubahan memiliki
peran strategis dalam memberdayakan masyarakat. Gerakan perubahan ini merupakan
gerakan yang berasal dari akar rumput yang memiliki peran yang penting dalam menjalankan program literasi di masyarakat.
Pusat pemberdayaan harus berawal dari hal yang dibaca, didengar, dilihat yang
bisa kita dapatkan dari perpustakaan. Semua orang bisa menjadi relawan literasi
masyarakat yang mampu bergerak dan
menggerakan perpustakaan. Relima juga mempunyai peran yang penting dalam
membangun ekosistem dalam gerakan literasi ini.
Relima dengan semangat kerelawanan harus dijaga karena mempunyai peran
penting dalam memajukan perpustakaan sebagai gerakan perubahan melalui berbagai
kegiatan positif yang langsung berdampak di masyarakat.
Bentuk dukungan relima
terhadap perpustakaan berupa tiga hal yaitu
inventarisasi, advokasi dan kegiatan literasi di Masyarakat.
Inventarisasi ini penting sebagai sumber data sebuah komunitas atau
perpustakaan. Untuk mengetahui sumber informasi yang bisa didapatkan untuk menyusun
program yang sesuai dengan kebutuhan.
Adapun dukungan relima yang lain adalah upaya advokasi yang dilakukan
dengan berbagai pihak. Guna mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai kota yang
literat dengan segala sumber daya yang telah dimilikinya adalah dengan
mengkolaborasikan unsur 5K yakni kota, korporasi, komunitas, kampung dan kampus. Dukungan yang bisa dilakukan adalah
berkegiatan positif di perpustakaan desa/kelurahan/ komunitas agar giat
literasi tetap berjalan.
Sasaran relima yang
menyasar semua kelompok usia dalam menjangkau berbagai macam program yang di
laksanakan, termasuk menjangkau kelompok rentan dan marjinal yang membutuhkan
sentuhan kegiatan yang menarik dan bermanfaat bagi mereka. Kegiatan literasi
tidak hanya gerakan membaca dan menulis semata, akan tetapi literasi merupakan
salah satu keterampilan yang mendasar untuk pondasi perubahan dan peradaban manusia. Melalui literasi ini,
seseorang tidak hanya belajar membaca dan menulis akan tetapi seseorang mendapatkan
informasi menjadi pengetahuan yang
bermakna.
Kegiatan literasi yang
kami lakukan ada berbagai kegiatan seperti membacakan cerita, mendongeng, dolan
literasi, gerakan rabu literasi anak al islam, dan masing banyak lagi. Kegiatan
utama yang kami lakukan selaku relima adalah garasi alam (gerakan rabu literasi
anak al islam). Gerakan literasi anak al islam memanfaatkan buku yang ada di
komunitas untuk mendukung gerakan literasi di sekolah yanga ada di wilayah. Kegiatan
ini menurut kami berdampak sesuai tahapannya, minimal ada progress dalam
layanan literasinya. Garasi ala mini kami lakukan saat awal menjadi reliama,
mengingat kebutuhan di lapangan. Berdasarkan raport pendidikan lembaga perlu adanya peningkatan literasi maka
program garasi alam ini sebagai langkah ikhtiar kami selaku relima membantu
lembaga.
Relawan literasi
masyarakat saat menjalankan ketugasan
sudah mengkolaborasikan unsur 5K yakni kota, korporasi, komunitas, kampung dan kampus.
Yang dimaksud kota disini merupakan pemerintah kota melalui OPD terkait
mengenai kebijakan literasi di wilayah. Selain itu korporasi yang mendukung
kegiatan atau gerakan ini semacam hotel satya graha membuka peluang untuk
berkolaborasi di bidang literasi dan umkm. Komunitas juga tidak kalah
dukungannya, semakin banyak kolaborasi ini akan memaximalkan gerakan yang dilakukan.
Jogjakarta berbakti, Pemuda peduli Jogja, OMIP liberty, Alus yang merupakan
komunitas yang akan mendukung gerakan garasi alam ini. Kampung merupakan wadah
yang ada di wilayah guna memaksimalkan potensi yang di wilayah. Pemerintah kota
Yogyakarta dengan kebijakan barunya satu kampung didampingi satu universitas,
sangatlah bagus untuk menguatkan gerakan diakar rumput. Dampak yang ditimbulkan
tidak hanya materi melainkan dampak perubahan perilaku atau hal yang berubah
dari sebelumnya. Garasi Alam merupakan giat literasi yang terus berproses dan berkesinambungan maka perubahan yang dihasilkan juga bertahap.
Tantangan dan
pembelajaran yang kami dapatkan selaku relima dalam menjalankan ketugasan adalah
bagaimana kami belajar mengatur waktu untuk meinventarisasi, membuat jadwal
kunjungan, advokasi agar kegiatan tiap bulan bisa terpenuhi dan ada dampak yang
dilakukan. Pentingnya belajar komunikasi agar bisa memahami banyak orang. Relima sebagai bagian ekosistem
literasi akan terus bergerak bersama demi terwujudnya ekosistem literasi yang
saling menguatkan. Semua bergerak dan memberikan dampak untuk sekitar.
(Mas_fa)


