Prestasi

Minggu, 28 September 2025

Garasi Alam, Gerakan Literasi Perubahan

 

Gerakan perubahan yang positif harus diwujudkan bersama-sama. Dengan kondisi Indonesia saat ini perlu kerja kolaboratif dalam mewujudkannya. Perubahan harus dilakukan karena berbagai hal yang kita temui  di lapangan. Gelombang informasi yang tanpa batas mengakibatkan berbagai dampak ke generasi saat ini. Unggah-ungguh yang mulai berkurang, kurangnya sharing dulu sebelum share mengakibatkan banyak masalah. Maka literasi sebagai salah satu ikhtiar sebagai gerakan perubahan  demi mewujudkan generasi yang bermartabat.

 Orang dikatakan literat apabila memiliki kemampuan dan kemauan  untuk melakukan sesuatu perubahan. Seperti hal yang disampaikan  Ki Hajar Dewantara, proses belajar melewati  tigal hal yaitu ngerti, ngrasa dan nglakoni.  Proses literasi  diawali dari ngerti yang berarti segala ajaran dan yang dicita-citakan diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan dalam melaksankan. Yang kedua ngrasa yaitu merasakan dan menyadari sebuah proses untuk diperjuangkan. Dan yang terakhir nglakoni yang berati  sebuah proses itu harus dilaksanakan dengan sepenuh hati agar membawa hasil yang maximal.

Literasi sebagai garda terdepan juga memerlukan wadah untuk melakukan kegiatan. Wadah kegiatan tersebut adalah perpustakaan. Perpustakaan sebagai agen perubahan memiliki peran strategis dalam memberdayakan masyarakat. Gerakan perubahan ini merupakan gerakan yang berasal dari akar rumput yang memiliki peran yang penting  dalam menjalankan program literasi di masyarakat. Pusat pemberdayaan harus berawal dari hal yang dibaca, didengar, dilihat yang bisa kita dapatkan dari perpustakaan. Semua orang bisa menjadi relawan literasi masyarakat yang mampu  bergerak dan menggerakan perpustakaan. Relima juga mempunyai peran yang penting dalam membangun ekosistem dalam gerakan literasi ini.  Relima dengan semangat kerelawanan harus dijaga karena mempunyai peran penting dalam memajukan perpustakaan sebagai gerakan perubahan melalui berbagai kegiatan positif yang langsung berdampak di masyarakat.

Bentuk dukungan relima terhadap perpustakaan berupa tiga hal yaitu  inventarisasi, advokasi dan kegiatan literasi di Masyarakat. Inventarisasi ini penting sebagai sumber data sebuah komunitas atau perpustakaan. Untuk mengetahui sumber informasi yang bisa didapatkan untuk menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan.  Adapun dukungan relima yang lain adalah upaya advokasi yang dilakukan dengan berbagai pihak. Guna mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai kota yang literat dengan segala sumber daya yang telah dimilikinya adalah dengan mengkolaborasikan unsur 5K yakni kota, korporasi, komunitas, kampung dan kampus.  Dukungan yang bisa dilakukan adalah berkegiatan positif di perpustakaan desa/kelurahan/ komunitas agar giat literasi tetap berjalan.

Sasaran relima yang menyasar semua kelompok usia dalam menjangkau berbagai macam program yang di laksanakan, termasuk menjangkau kelompok rentan dan marjinal yang membutuhkan sentuhan kegiatan yang menarik dan bermanfaat bagi mereka. Kegiatan literasi tidak hanya gerakan membaca dan menulis semata, akan tetapi literasi merupakan salah satu keterampilan yang mendasar untuk pondasi perubahan dan  peradaban manusia. Melalui literasi ini, seseorang tidak hanya belajar membaca dan menulis akan tetapi seseorang mendapatkan informasi  menjadi pengetahuan yang bermakna.

Kegiatan literasi yang kami lakukan ada berbagai kegiatan seperti membacakan cerita, mendongeng, dolan literasi, gerakan rabu literasi anak al islam, dan masing banyak lagi. Kegiatan utama yang kami lakukan selaku relima adalah garasi alam (gerakan rabu literasi anak al islam). Gerakan literasi anak al islam memanfaatkan buku yang ada di komunitas untuk mendukung gerakan literasi di sekolah yanga ada di wilayah. Kegiatan ini menurut kami berdampak sesuai tahapannya, minimal ada progress dalam layanan literasinya. Garasi ala mini kami lakukan saat awal menjadi reliama, mengingat kebutuhan di lapangan. Berdasarkan raport pendidikan lembaga  perlu adanya peningkatan literasi maka program garasi alam ini sebagai langkah ikhtiar kami selaku relima membantu lembaga.

Relawan literasi masyarakat  saat menjalankan ketugasan sudah mengkolaborasikan unsur 5K yakni kota, korporasi, komunitas, kampung dan kampus. Yang dimaksud kota disini merupakan pemerintah kota melalui OPD terkait mengenai kebijakan literasi di wilayah. Selain itu korporasi yang mendukung kegiatan atau gerakan ini semacam hotel satya graha membuka peluang untuk berkolaborasi di bidang literasi dan umkm. Komunitas juga tidak kalah dukungannya, semakin banyak kolaborasi ini akan memaximalkan gerakan yang dilakukan. Jogjakarta berbakti, Pemuda peduli Jogja, OMIP liberty, Alus yang merupakan komunitas yang akan mendukung gerakan garasi alam ini. Kampung merupakan wadah yang ada di wilayah guna memaksimalkan potensi yang di wilayah. Pemerintah kota Yogyakarta dengan kebijakan barunya satu kampung didampingi satu universitas, sangatlah bagus untuk menguatkan gerakan diakar rumput. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya materi melainkan dampak perubahan perilaku atau hal yang berubah dari sebelumnya. Garasi Alam merupakan giat literasi yang  terus berproses  dan berkesinambungan  maka perubahan yang dihasilkan juga bertahap.

Tantangan dan pembelajaran yang kami dapatkan selaku relima dalam menjalankan ketugasan adalah bagaimana kami belajar mengatur waktu untuk meinventarisasi, membuat jadwal kunjungan, advokasi agar kegiatan tiap bulan bisa terpenuhi dan ada dampak yang dilakukan. Pentingnya belajar komunikasi agar bisa memahami  banyak orang. Relima sebagai bagian ekosistem literasi akan terus bergerak bersama demi terwujudnya ekosistem literasi yang saling menguatkan. Semua bergerak dan memberikan dampak untuk sekitar. 
(Mas_fa)

Minggu, 23 Maret 2025

KKN Konversi UIN Sunan Kalijaga: Ngabuburit with Kaligrafi

 

Kelompok KKN Konversi Rumah Baca RM Suryowinoto Giwangan atau Kelompok Gyanawangga dari UIN Sunan Kalijaga mengadakan pelatihan Kaligrafi berjudul “Ngabuburit with Kaligrafi!” pada Rabu, 19 Maret 2025. Pelatihan ini diadakan di Rumah Baca RM Suryowinoto bersama anak-anak TPA Darussalam. Dalam kegiatan ini, Kelompok KKN Gyanawangga mengundang kaligrafer Muhammad Kafka Auliya sebagai pemateri sekaligus juri lomba kaligrafi.

Pelatihan merupakan perkenalan dasar seni kaligrafi. Pembuka dari kegiatan ini di mulai dengan sambutan dari Fajar Nur Rohmad sebagai Pengelola Rumah Baca RM Suryowinoto. Fajar menjelaskan urgensi dari kegiatan ini adalah memberikan edukasi dan mengajarkan nilai-nilai positif kepada anak-anak TPA Darussalam jelang berbuka puasa.

“Kami, Rumah Baca Suryowinoto, memang bermitra dengan TPA Darussalam sehingga kegiatan KKN Konversi ini walaupun sebenarnya mitranya adalah TBM, tapi tetap bisa berkegiatan dengan lembaga-lembaga mitra kami juga. Apalagi kegiatan seperti ini, ya, pelatihan kaligrafinya yang sederhana-sederhana saja, karena yang dengar juga, kan, anak-anak SD, yah, sembari kita menunggu berbuka bersama di Mushalla nanti,” ujar Fajar.

Selaku ketua Kelompok KKN Gyanawangga, Rozanatu Dzil Izzati menjelaskan tujuan dari kegiatan ini sendiri adalah memberikan wawasan pengetahuan dasar mengenai seni kaligrafi. Anak-anak yang mengikuti pelatihan ini diajak untuk mempraktikkan kaligrafi sederhana dengan kalimat “Bismillahirrahmanirrahiim” dalam bahasa Arab.

“Dengan adanya pelatihan kaligrafi bagi anak-anak TPA Darussalam ini, kami berharap dapat menumbuhkan kecintaan mereka terhadap seni Islam. Selain itu, pelatihan ini juga melatih kesabaran, ketelitian, dan kreativitas anak-anak dan  mengekspresikannya melalui seni kaligrafi.” Jelas Roza.

Setelah mengadakan pelatihan Kaligrafi, esoknya Kelompok KKN Gyanawangga mengadakan lomba mewarnai kaligrafi. Lomba ini diadakan untuk mengasah kreativitas anak-anak, sembari mengisi waktu luang jelang berbuka puasa.

“Manfaat dari materi kemarin adalah untuk pengetahuan dasar adik-adik sekalian bahwa selain membaca dan mempelajari Alquran, alangkah baiknya dikolaborasikan dan disempurnakan dengan belajar menulis ayat-ayat tersebut. Harapan saya kedepannya forum pembelajaran seni kaligrafi ini dibuka lebih luas sehingga anak-anak yang belum terjamah bisa belajar dan merasakan dampak positifnya,” ujar Kafka dalam wawancara setelah lomba mewarnai kaligrafi. (Nanda Arinza Salsabila)